Satu Bahasa, Satu Bangsa, Satu Negara (Siri Perpaduan SSS No.5)

17 05 2010

Kami terbitkan semula sebuah artikel yang ditulis oleh Saudari Eunice Ong bertajuk (alih bahasa), “Kita, Yang Bukan Melayu” . Artikel ini telah diterbitkan di laman citra LoyarBurok di pautan ini:-

We, the Non-Malays

By Eunice Ong

(Ketuanan Pin Biru)

Revisiting the topic of Malay rights from one side of the fence but in view of all. Ketuanan Pin Biru We (and when I say we, I mean the non-Malays) often complain of the different privileges received by the different races. We condemn frequently organisations such as PERKASA, the “Ketuanan Melayu” mentality, and all the privileges that we see our Malay contemporaries get. We express disgusted disapproval of the inequality.

We whine that Malay is the national language and Islam is the national religion as opposed to our preferred language. Ah! We can also go on about how much sacrifice it is to go to a halal restaurant, because you have a Malay friend with the group.

So, one day say, the Prime Minister tells us that he has the mandate from the Malays and wants to negotiate a compromise. Mr. PM will ask of our dissatisfaction, and we will give him a long list: we want our children to be admitted to all public universities, we want to be given more business licenses, we want to either take away the Bumiputera discount or get the same discount, we want to be given the privilege to buy special shares so as to earn money, and the list goes on.

Mr. PM says, “Fine, we can come to a compromise and I can agree to at least half of your requests, but will you agree to give up vernacular schools and make our education system a one-school system?” Funnily enough, before he can explain how the individual vernacular language will be taught as an elective subject in all schools (private or public) and that it will eventually delete one of the many causes of racial disunity, the strongest protesters of that proposal will be the same persons who claim injustice in the first place.

If change is indeed a goal, there are sacrifices we have to make. We can argue until the cows come home that we are giving up our right to learn our mother tongue and our roots, but we are Malaysians and it is about time we should start acting like Malaysians. Our roots are all here in Malaysia, not in China or India. Do we really expect them to give up what they have been enjoying for more than five decades in the name of change without us making an effort at the same time? If we do, how then can we advocate for fairness?

As many would remember telling me in their wisdom to look at the big picture, and the big picture here is that giving up vernacular schools will mean lesser racial disunity. The usual trend is that the cliques are racial based and that barrier is language. Really, be honest, you would have used the excuse of not being able to have more friends of other races because of language. I have that problem.

The big picture is that if we can accept each other, we can learn from each other and the troubling PERKASA will not exist to protect the rights of the Malays.

The big picture is that there is hope for change.


Apa yang dituliskan oleh Saudari Eunice Ong itu memang ada kebenarannya. Inilah semangat saling memahami dan bertolak ansur yang amat penting untuk dihayati bersama demi keharmonian hidup sesebuah masyarakat yang berbilang kaum. Kita semua adalah berbilang kaum, tetapi bangsa kita hanyalah satu, iaitu Bangsa Malaysia.

Ingin kami tekankan sekali lagi bahawa Bangsa Malaysia bercirikan kebudayaan berbilang kaum, di manakebudayaan Melayu menjadi terasnya. Seperti juga bahasa. Walaupun kita mempunyai pelbagai bahasa pertuturan, tetapi kita rakyat Malaysia sepatutnya hanya menggunakan Bahasa Malaysia apabila berkomunikasi sesama sendiri dalam segenap urusan seharian. Kita menggunakan bahasa Inggeris, bahasa kedua kita, apabila berkomunikasi dengan bangsa-bangsa asing yang lain yang tidak menguasai Bahasa Malaysia.

Moga-moga suatu hari nanti, seluruh rakyat Malaysia akan menggunakan Bahasa Kebangsaan (iaitu Bahasa Malaysia) sepenuhnya termasuklah juga penggunaan seharian sewaktu berada di rumah masing-masing. Kita rakyat Malaysia, sepatutnya fasih dalam kedua-dua bahasa ini, iaitu Bahasa Kebangsaan dan Bahasa Inggeris. Ini tidak bermakna bahasa ibunda akan diketepikan langsung. Kita wajar mengekalkan bahasa-bahasa ibunda ini bagi tujuan adat resam, tradisi dan juga menguasainya mengikut pilihan masing-masing sebagai bahasa ketiga, keempat dan seterusnya. Bukannya sekali-kali meletakkan bahasa ibunda ini mengatasi kedudukan Bahasa Kebangsaan kita dalam urusan seharian, apatah lagi dalam urusan rasmi.

Dalam konteks inilah, ianya menjadi salahsatu tujuan kami untuk melancarkan Kempen Satu Sekolah Untuk Semua. Bukan untuk menghapuskan sekolah vernakular, tetapi, berusaha agar sekolah vernakular dapat diserapkan atau dinaikkan taraf sehingga ianya mempunyai ciri-ciri sebuah sekolah kebangsaan dengan sepenuhnya.  Pada hari ini sekolah-sekolah vernakular mengutamakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, bukannya Bahasa Kebangsaan. Bahkan ada sekolah-sekolah vernakular yang membelakangi terus Bahasa Kebangsaan. Ini menjejaskan semangat nasionalisma dan perpaduan di kalangan warga Malaysia.

Kami juga tertarik dengan semangat Malaysia yang dipaparkan oleh seorang pengunjung, Saudari Sarita Sharma, yang kami petik seperti berikut:-

Its sad to see people getting so defensive. Look Eunice is correct. The buck has to stop somewhere. Why not with you? You claim you are Malaysian but you condemn and critise your country to no end saying its been unfair and discriminating. Yet you do the same thing your country does albeit on a micro level. You prefer to have friends who speak the same language, you prefer to work with people who speak the same language, you prefer people who share the same religious beliefs etc. No one is saying the country is perfect but get this the country is yours. What you do affects your country. You start sending your kids to national schools and only national schools, get them to mix around with their fellow Malaysians freely, will there be discrimination when your children become leaders of tomorrow? Definitely not. Why? Because they learned to mingle.

Tanpa mengulas panjang, kami serahkan kepada para pembaca untuk menilai sendiri semangat nasionalisma yang dipamirkan oleh Saudari Sarita Sharma ini, sebagaimana juga semangat yang ditonjolkan oleh Saudari Eunice Ong.

Tapi walaubagaimanapun, masih terdapat ramai di kalangan mereka-mereka yang mengaku sebagai rakyat Malaysia hanya pada mulut, sedangkan tingkah laku serta semangatnya langsung tersimpang jauh dari Malaysia. Kita lihat sahajalah komen-komen yang diberikan oleh orang-orang seumpama ini apabila saja ada seruan kearah “Satu Bahasa, Satu Bangsa, Satu Negara”. Mereka-mereka ini sengaja menimbulkan pelbagai alasan dan kerenah sehingga mengundang komen balas yang senada, yang mempertahankan kedaulatan Bahasa, Bangsa dan Negara ini.

Tepat sekali seperti kata Saudari Eunice Ong:-

“…the strongest protesters of that proposal will be the same persons who claim injustice in the first place…”

dan Saudari Sarita Sharma :-

“…The buck has to stop somewhere. Why not with you?…”

Pemberi komen yang mengunakan nama “victor” dan juga yang lain-lain yang serupa pendiriannya dengan “victor” ini, merungut kononnya dia didiskriminasikan. Kalau si “victor” ini sendiri bercakap bahasa asing di bumi Malaysia ini, kenapa pula merungut dan menyalahkan orang lain konon dia di diskriminasikan? Bukankah dia sendiri yang mengasingkan dirinya, tidak mahu bercampur gaul dan asyik menggunakan pakai bahasa asing di bumi Malaysia ini saban hari dia menjejak kaki di sini?

Siapa yang mendiskriminasikan siapa?




27 responses

17 05 2010

This writer has a very responsible stand and I’m very proud of her as a fellow Malaysian.

I wish to add a few points, though. The non-Malays don’t have to give up their right to learn their mother tongue under the single stream schooling. Nobody will ask them to. It is their “legitimate interest” that I’m sure the YDP Agong will continue to protect. They may learn their mother tongue as an elective subject in schools. Only that Mandarin and Tamil cannot be the medium of instruction as Bahasa Malaysia is the national and official language and schools are the official business of the country. In this respect, it is not even a sacrifice of one’s right to study mother tongue.

While not intending to sound patronising (after all, we are fellow Malaysians), I wish to say that it is heartening to hear her say, “we are Malaysians and it is about time we should start acting like Malaysians. Our roots are all here in Malaysia, not in China or India.” When those who appear to be alienating themselves by sending their children to vernacular schools, hardly mixing with Malaysians of other races and grudging the attempts to bridge the economic and educational gap faced by the Malays, do like what she suggests, Malaysia will certainly be a happier place to live in. There will then be a spirit of give and take for harmonious relations and unity.

17 05 2010
SSS Admin


Yes, the non-Malays don’t have to give up their right to learn and use their mother tongue other than for official and public purposes. It is a very fair expectation on our part that those concerned cease to use the vernacular as medium of instruction in schools because Bahasa Malaysia is the National and Official Language of the country.

Indeed, those who do not “act like Malaysians” should pat their own hands a little and realise that “they are all here in Malaysia, not in China or India.” Often they are carried away by the propaganda of others who keep asking for more when they, as a community, already have more than others. Some choose to alienate themselves by having their own associations and guilds, keeping to their own values, sending their children to vernacular schools and hardly mixing with others. They may not be large in number but do pose problems in the efforts to create national unity.

Some are themselves propagandists, talk about the so-called Malaysian Malaysia, a concept which does not recognise and subverts the Special Positon of the Malays and the Bumiputeras of Sabah and Sarawak. The hardcores even try to question the Special Position Article 153, which is an act of sedition because that Article is protected by the Sedition Act. They look for every opportunity to criticise everything they perceive as Malay dominant, including the Government, the Police, the MACC. They forget that the Malays are the majority in this country and therefore tend to dominate the public sector despite the fact that they, though in the minority, dominate the private sector. They refuse to accept what the British had said that the Malay Special Position had been there “from day one”, been there for hundreds of years, recognised by the British when they first had contacts with this country in the modern sense, since Queen Victoria. They simply want more, more and more although the Chinese have been controlling the economy, have a huge chunk of wealth in all forms, grudge the Malays who now have only 18% of corporate wealth.

There are very many good and responsible citizens like Eunice and Sarita out there. Let’s hope more of them will come out to say what they feel so that the misled, and the hardcores who badly and ill-intentionally led, can ponder a little the need to be reasonable and responsible in the interest of harmony and long term peace in this country.

17 05 2010

Saya pun senang hati dengar kata-kata Saudari Sarita Sharma. Memang ada banyak yang macam Saudari Eunice Ong dan Saudari Sarita Sharma. Rasanya mereka “silent majority” dikalangan bukan Melayu. Yang banyak membising dengan berbagai komplen itu hanya segelintir sahaja.

Saya pun bernenek moyangkan mereka yang datang keMalaysia. Tapi beratus tahun yang lalu. Dan mereka diIndoesia, Filipina dan digugusan pulau pulau Melayu (Malay Archipelago) dikatakan Rumpun Melayu. Tapi ada dialek atau suku bahasa sendiri, saperti Jawa, Bugis, Banjar, Suluk dan sebagainya. Namun demikian, tak ada masalah menerima Bahasa Malaysia. Memang boleh berbahasa ibunda tapi janganlah disekolah atau dikhalayak ramai. Hidup Malaysia!

18 05 2010
SSS Admin


Bahasa Malaysia sudah menjadi bahasa perhubungan (lingua franca) dinegara ini sejak mula orang asing sampai disini. Dizaman Kesultanan Melayu Melaka dimana ramai pedagang asing singgah dan mendiami Melaka yaag termashur diseluruh dunia sebagai perlabuhan dagangan (entreport) dimasa itu, orang Cina yang menetap disitu begitu fasih dengan Bahasa Melayu, juga menerima beberapa unsur budaya Melayu dan dikenali sebagai masyarakat Baba. Tetapi pengaruh politik kumpulan mereka yang cauvinis, rasis dan subversif, yang banyak membising diMelaka beberapa dekad yang lalu telah mengikis cara hidup masyarakat Baba tersebut. Maka mereka yang cauvinis dengan bahasa Mandarin dan gaya hidup yang tersendiri pula terbawa bawa dengan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar disekolah sekolah.

Amatlah nyata bahawa sekolah vernakular bertentangan dengan Perkara 152 Perlembagaan yang menyatakan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Kebangsaan yang telah juga menjadi Bahasa Resmi. Hal bahawa sekolah vernakular itu dibiarkan ada sejak Merdeka tidak bermakna ianya betul. Pemerintah yang telah mengatakan bahawa sistem sekolah satu aliran atau Satu Sekolah Untuk Semua (SSS) akan dilaksanakan bila rakyat mahukannya perlu membuat keputusan berkenaan cara menentukan sama ada rakyat mahukannya sekarang atau tidak. Ini supaya rakyat tahu pendirian Pemerintah sabenarnya terutama salepas melihat kegiatan meraih undi dengan habuan bantuan wang kapada sekolah vernakular. Dan juga supaya rakyat boleh membuat keputusan dipilihan raya umum akan datang. Rakyat sudah melihat bahawa wang tunai untuk sekolah Cina sebanyak RM3 juta diPRK Hulu Selangor dan RM18 juta diPRK Sibu nyata tidak mendatangkan hasil kapada parti pemerintah. Jika berterusan, akan senang rakyat “silent majority” yang mahukan SSS membuat keputusan.

17 05 2010

Tak ramai Cina macam Eunice. Tak ramai yang baca artikel Eunice. Orang Cina tak mahu tahu pasal sejarah. Sikap mereka betul-betul macam babi. Menyondol-nyondol. Mungkin kerana mereka kuat makan babi.

18 05 2010
SSS Admin


Kami berpendapat ada ramai yang berpendirian saperti Eunice tetapi tidak mengeluarkan suara. Kami setuju tidak ramai yang baca penulisannya sebab dia tidak menulis diakhbar. Jika dia menulis kapada akhbar yang laris dibeli Cina pun, tidak pasti sama ada penulisannya akan diterbitkan. Ada akhbar akhbar yang nyata berpendirian cauvinis, ada yang kurang tetapi terpengaruh oleh, atau takut kurang laris jualannya jika menerbitkan penulisan saperti itu. Untung adalah kiraan utama kapada mereka, lebih besar kiraannya dari perkara mendatangkan ta’at setia dan rasa sayang kapada negara, harmoni dan salitur rahim antara rakyat.

Tiada siapa boleh lari dari sejarah. Fakta sejarah sentiasa terbambang atau timbul disana sini. Mereka yang menutup mata atau telinga dari masa kemasa terdedah juga kapada fakta sejarah itu. Dan kita perlu sentiasa menyondolkan fakta-fakta sejarah itu kapada mereka. Termasuk hal kegunaan Bahasa Melayu dalam sejarah yang sekarang dikenali sebagai Bahasa Malaysia. Dan hal bahawa Kedudukan Istimewa Melayu itu tersedia ada dinegara ini “from day one” kata orang British dimasa membincangkan kemerdekaan untuk Malaya. Dan juga hal bahawa bukan Melayu yang menetap dinegara ini pada umumnya menyesuaikan dirinya kapada keadaan tempatan saperti tercatit didalam sejarah.

Maka perlulah kita teruskan usahah-usaha mendapatkan mereka yang enggan atau engkar menyesuaikan diri mereka sebagai rakyat Malaysia, saperti yang dikatakan oleh rakyat terpuji saperti Eunice dan Sarita itu.

17 05 2010

Dear Sir,

It makes me wonder why DS Najib seems not so keen on Single Stream School once being voiced out by many levels of society, me, you, Eunice, bloggers, Prof. Dr. Khoo Kay Kim and his fellow professors & academicians, politicians and even ministers, NGOs etc. While putting on cold blanket on Single Stream School, DS Najib seems to be head over the heel in preserving vernacular schools.

This is very strange behaviour of leader of a country, which, UNITY would be one on the main government agenda.

19 05 2010
SSS Admin


DS Najib is bent on political gains. Other things appear to have become secondary to him. Everythng he does or doesn’t do may be motivated by the votes. To gain votes, he must get the economy improve. He did it by the liberalisation process. Malay sentiments against some aspects of that are, to him, secondary.

He is determined to gain the PRU12 lost votes. He probably calculates there were more votes lost of the Chinese than of the Malays. This is a matter of opinion and the experts have been proven wrong in their analyses, strategies and forecasts – once in PRU 1969 that led to the racial riots and another in 2008 that led to where we are now, with increasing racial polarisation.

In pursuing the Chinese votes, he appears to have put aside principles – it is, for example, against principle to encourage vernacular schools by giving financial grants because it is contrary to Article 152 on Bahasa Malaysia. His New Economic Model implies expecting the Malays and the Bumiputeras of Sabah and Sarawak to compete on an uneven playing field – this disadvantaged group have only 18% corporate wealth (not yet counting other forms of wealth) and the reverse ratio of positions in the various professionsal activities in the country. The principle of fairness appears to be not observed.

The PKR Hulu Selangor and Sibu had shown that he could not get the support of those to whom he dangled the carrot – he, in fact, fed the carrot to the horses mouth, yet the horse refused to move to his side. Hopefully he realised the need to change course and start actions that would bring him votes from the 70% of the population – single-stream schooling and bridging the economic and educational gap that the British colonialist policies had created and that had not been satisfactorily resolved with affirmative action policies since the 1970s.

17 05 2010

SSS Admin

First we must ask why the “need” for Sekolah Jenis is it to learn the language? or is it to learn to become a Chinese/Tamil?

What is this Cultural thing that they so protect in their SRJK? Is it a special secret subject that is not made known even to the Non Chinese/Tamil who attend the SRJKs

And as for the current government attitude towards this issue….gua menyampah nak mapus

19 05 2010
SSS Admin


They have to become Malaysians, think, act and go to school like Malaysians. Meaning, schools having Bahasa Malaysia as the medium of instruction, the same curriculum and syllabus as the Sekolah Kebangsaan. They can learn Mandarin and Tamil in the national schools as elective subjects. If not, they simply are alienating themselves and appear not to belong to the mainstream of Malaysian society.

Nobody talks about assimilation the Thai, Indonesian or Filipino style where they are forced to adopt local names, wear local dresses and conform to local ways in their daily lives outside their homes. They can promote their culture by having study sessions outside normal school hours. But if they intend to develop a different set of Malaysians with un-Malaysian sets of values and norms of behaviour, this is not acceptable to the vast majority of Malaysians.

Let us continue to urge them to become Malaysian in all respects, and urge the Government to take steps to have the single-stream schooling so that future Malaysians will talk, think and act as Malaysians in the real sense of the word. Non-respecting the Constitutional provision on Bahasa Malaysia is not talking and acting really as Malaysians.

18 05 2010


Sekolah sepatutnya jadi tempat berkumpulnya anak-anak kita, tempat mereka berkawan, bersuai-kenal, menimba ilmu bersama, bermain, bersukan, beriadah dan bermacam-macam lagi anak-anak kita boleh buat bersama-sama tanpa memandang kulit dan darjat. Anak-anak kita tidak seharusnya diasingkan seperti yang berlaku hari ini.

Yang pilih di mana nak sekolahkan anak-anak ni mak bapak bukan anak-anak itu sendiri. Jadi di situlah kesilapan pertama. Kesilapan kedua ialah sebagai rakyat Malaysia, mak bapak ada terlampau banyak pilihan. Anak-anak tak buat pilihan.

Saya masih boleh ingat hari pertama saya pergi sekolah. Jauh sekolah saya -16 batu (anak-anak saya tak faham sukat batu sebab cikgu tak payah ajar). Kawan-kawan satu darjah ada macam-macam keturunan. Seronok. Di kampung saya, ada jugak biasa tengok orang lain-lain keturunan ni tapi tengok aje. Di sekolah ada sehari suntuk. Boleh berkawan, bermain. Saya tak pernah tanya bapak saya apasal hantar saya pergi sekolah jauh sangat-kena bangun pukul 5 tiap-hari. Sampai sekolah matahari pun belum terbit lagi, tapi member kejap lagi datang boleh main galah panjang sebelum masuk bilik darjah. Lagi satu perkara saya tak akan lupa, saya pergi sekolah hari pertama, lepas tu cuti 4 hari pasal banjir besar.

Habis sekolah rendah lagi jauh bapak saya hantar saya pergi sekolah-50 batu. Tak boleh balik hari. Sedih jugak,tapi tak apa sekolah seronok. Ada jugak saya mintak bapak saya tukar pergi sekolah boleh balik hari, tapi bapak tak “approved”. Sekolah seturusnya lagi bukan main jauh. Boleh balik 2 tahun sekali aje. Tapi itu lah dia berkat pilihan mak bapak.

Jadi persoalan moralnya, apa yang kita tengok hari ni-“polarisation” kaum di kalangan budak-budak sekolah ni dah berlanjutan lama dan menjadi semakin buruk setiap hari atas plihan mak bapak sendiri.

Mak bapak ni yang kena berhijrah fikiran dulu. Baru anak-anak ikut dan ia akan menjadi semakin baik hari demi hari.

Sekarang ni kita ada sekolah yang tak sampai 20 orang pun penuntut demi untuk menuntut hak kerakyatan mak bapak. Mak bapak dan cerdik pandai yang nasihatkan anak-anak nanti jadi mundur pergi sekolah SSS. Kita sampai mati pun tak akan bersatu selagi mak bapak ni tak mahu berhijrah fikiran. Dah tu anak-anak membesar nak isi borang masuk universiti pun buat silap sebab kefasihan bahasa borang tu kurang lalu gagal masuk universiti dan berasa dipinggirkan peluang.

Salah siapa ni ?

19 05 2010
SSS Admin


Kami setuju bahawa salahnya adalah ibu bapa yang meletak anak mereka disekolah vernakular. Dan mereka yang mempertahankan sekolah vernakular dengan ajendanya yang tersendiri.

Yang mahukan berlajar bahasa Mandarin boleh buat demikian disekolah kebangsaan dengan Mandarin sebagai mata pelajaran pilihan. Yang mahukan kebolehan bertutur bahasa Mandarin untuk berniaga boleh belajar dikursus ekspress saperti Berlitz School of Languages. Yang mahu kebolehan menulis dan sebagainya boleh memilih kursus kursus tertentu. Tidak perlu berlajar disekolah Cina yang tidak sejajar dengan Peruntukan 152 Perlembagaan berkenaan Bahasa Malaysia.

Salahnya juga terletak diatas pemimpin sejak sebelom Merdeka. Mereka berunding dan bersetuju supaya Bahasa Melayu (sekarang Bahasa Malaysia) dijadikan Bahasa Kebangsaan dan dicatit diPerlembagaan. Tetapi mereka tidak menentukan supaya diadakan hanya sekolah kebangsaan sahaja berikutan dengan itu. Hendak sangat Merdeka, ghairah sangat dengan prospek memerintah diri sendiri, maka masalah sekolah vernakular disapu dibawah tikar. Dan salepas Merdeka, ghairah lagi dengan perasaan memerintah diri sendiri. Baiknya Melayu yang memegang teraju pimpinan negara sehingga syarat kecekapan Bahasa Melayu pun diketepikan bila mengeluarkan sijil kerakyatan. Maka naik kepalalah mereka yang mempunyai ajenda tersendiri dengan memegang kuat kapada sekolah vernakular.

Kesemua pemimpin demokrasi mahukan disuka ramai (popularity) sebanyak mana dan selama mana yang boleh. Susah mendapat pemimpin yang berani dan tegas. Walau pun ada majoriti 2/3 diParlimen masih enggan mengambil langkah yang dikhuatiri tidak disukai, walau pun bukan yang tidak disukai ramai atau dibantah oleh majoriti. Ada pula yang keterlaluan. Bukan sahaja tidak mengambil tindakan membetulkan keadaan janggal adanya sekolah vernakular, tetapi menggalakkan penerusan gejala sekolah vernakular itu. Maka dibuat lawatan resmi kesekolah vernakular, diumumkan sekolah vernakular boleh diteruskan, diterima jemputan makan malam disekolah vernakular, tambahan pula, diberi bantuan wang kapada sekolah Cina – RM50 juta diPRK Kuala Trengganu, RM3 juta di PRK Hulu Selangor, RM18 juta diPRK Sibu. Dengan harapan mendapat undi penganut-penganut sekolah vernakular dan sekutu mereka. Buktinya nyata habuan itu tidak membawa undi berlebihan. Malahan diPRK Sibu, yang diPRU 2008 pemerintah menang dengan hampir 4,000 undi, bahru ini kalah 398 undi – lari terbang lebih 4,000 undi.

Maka kita harapkan pemerintah sedar kerongakan hal menyusu kera dihutan, anak dipangkuan kelaparan. Ada laporan berita mengatakan disebuah sekolah kebangsaan diGombak keadaanya robeh sehingga kipas angin jatuh berkeliaran dari siling. Begitu juga kecapekan keadaan disuatu sekolah kebangsaan lain yang diberitakan beberapa bulan yang lalu. Mungkin itu masalah kecuaian pihak pentadbiran sekolah. Tetapi berlakunya keadaan itu menonjolkan keLuncaian tindakan memberi bantuan wang kapada sekolah Cina yang pada umumnya kaya raya dan mempunyai berbagai persatuan menolong satu sama lain diantara mereka.

Marilah kita meneruskan penulisan dengan tujuan meminta pemerintah sedarkan keanehan keadaan sekarang dan berdo’a moga-moga Allah tunjukkan jalan yang munasabah kapada yang berkenaan.

18 05 2010

Susahlah! Bagi 18 juta pun …. takusahkan satu bahasa …. satu undi pun tak dapat.

Kita cari pemimpin yang lainlah …. yang berani sikit.

20 05 2010
SSS Admin


Pemimpin yang tegas dan berani susah dicari. Tetatpi kita perlu terus mencarinya. UMNO yang keahliannya merangkumi kumpulan terbesar Melayu perlu memilih dengan perihatin. Pentingnya perlu ketepikan habuan kain pelikat dan kepingan RM50. Jangan memikirkan dapat jawatan untuk ganjarannya. Hentikan “vicious cycle” ganjaran untuk jawatan, jawatan untuk ganjaran. Sehingga dianggap mendapat jawatan itu sebagai suatu tanaman modal atau “investment”. Cari wang sebagai modal untuk habuan, bila dapat jawatan, “recoup” dengan cara dapat AP, kontrek, projek dan sebagainya. Lagi besar jawatannya, lagi besar modalnya. Termasuk untuk membayar katak lompat. Maka Anwar dikatakan bekas pembantunya telah mengumpul sebanyak RM2-3 billion semasa memegang jawatan Menteri Kewangan. Untuk melawannya memerlukan berpuluh billion? jika benar, teruklah negara ini. Rosaklah UMNO dan meranalah Melayu padahnya.

Usaha-usaha mengawal politik wang yang telah dimulakan perlu kita puji. Marilah kita menggesa dan berdo’a supaya diteruskan sehingga gejala itu dibasmikan dan rasuah pada umumnya dikawal sebaik-baiknya.

Maka pemimpin yang berani itu adalah orang yang sanggup memipin mengikut Perlembagaan negara sepenuhnya. Berani menyelesaikan masalah sekolah yang tidak menggunakan Bahasa Malaysia sebagai bahasa pengantar. Berani menjalankan dasar dasar bagi merapatkan jurang keadaan ekonomi dan pelajaran diantara kaum Melayu dan Bumiputera Sabah dan Sarawak dan kaum yang telah amat maju dihadapan sedemikian lama. Berani meneruskan usaha usaha DEB didalam apa dasar ekonomi yang akan datang tanpa was was. Berani menggunakan alat-alat mengawal mereka yang subversif, anti-nasional dan mempolitikkan apa sahaja sehingga menggugat keharmonian dan menjejas ketenteraman negara.

Peruntukan-peruntukan sudah sedia ada, saperti Per 152 Bahasa Kebangsaan dan 153 Kedudukan Istimewa Melayu. Alat-alat mentadbir dan mengawal pun sudah sedia ada, saperti Akta Hasutan. Hanya pemimpin yang berani yang kita perlu cari.

19 05 2010

Ada yang mengaku dirinya peguam mendakwa kononnya Perkara 153 Kedudukan Istimewa Melayu mendiskriminasikan yang lain. Nampaknya tidak semua peguam pandai atau munasabah walau pun ada sijil peguam.

Takkanlah bijak pandai yang menderap Perlembagaan Malaya, kemudian Malaysia, tidak memikirkan hal ini. Kalau mereka luluskan Perlembagaan itu, sekarang sudah 53 tahun, takkanlah 153 bercanggah dengan lain-lain peruntukan berkaitan diskriminasi.

20 05 2010
SSS Admin


Tidak timbul so’al diskriminasi kerana Kedudukan Istimewa Melayu diPerkara 153 Perlembagaan itu sudah sediakala ada, saperti dinyatakan Menteri Hal Ehwal Kawasan Jajajahan Britain diParlimen masa membincang Kemerdekaan untuk Malaya ditahun 50an. Mereka yang mengatakan Hak Istimewa itu mendiskriminasikan yang lain adalah kumpulan yang tiada kepakaran undang-undang perlembagaan, atau yang enggan menerima fakta sejarah atau ada hasad dengki dan tujuan jahat. Diakui oleh sesiapa yang datang kerantau ini sejak ratusan, malah ribuan tahun dahulu, melihat hak-hak yang telah ada pada tuan tanah bila mereka mula menjejak muka bumi ini.

Kalau pun mahu diperkatakan dari segi Kontrak Sosial, memang ianya sekurang-kurangnya dianggap sebagai balasan kapada pemimpin Melayu menyetujukan hak kerakyatan kapada bukan Melayu yang tiada kerakyatan apa pun (stateless) dimasa penjajahan British dan sebelomnya. Tidak ada so’al diskriminasi dari segi ini juga.

Perlembagaan sudah berjalan sejak 53 tahun dengan tidak ada pertukaran kapada peruntukan-peruntukan yang penting, yang tidak bercanggah antara satu sama lain dari segi maksud dan tujuan, dan dari segi undang-undang. Janganlah rakyat Malaysia
mengungkit dan pertikaikan Perkara 153 sebab itu boleh mendatangkan tindak balas menungkit kerakyatan anak cucu bukan Melayu dan ini tidak baik untuk kesejahteraan negara.

19 05 2010

I wonder if there is any question of a mandate from the Malays to negotiate a compromise. The Constitution is loud and clear. As people have been talking here earlier on, the British had pointed out in their Parliament that the Malay Special Position had been there “from day one”. Well before the others came to settle in big numbers.

The British brought in the Chinese and Indians in big numbers in pursuit of their colonial policies. They wanted to exploit the natural resources of this country to the maximum to provide raw materials for their factories and to serve as market for their manufactured goods. At Merdeka the bloody British twisted the arms of the Malay leaders quite a bit to get them negotiate with and agree on citizenship for the non-Malays. And the non-Malay leaders, in consideration of that, agreed to the Special Position of the Malays reaffirmed and stated in the Consitution as Article 153.

What else is there to negotiate? After all, its the obligation of each and every citizen to respect and live with the Constitution of the country. If the Malay leaders show weakness they get whacked. Abdullah Badawi was whacked prim and proper at the 12th General Elections.

19 05 2010

Ini pandai-pandai sendiri, Najib ni. Negotiate dengan kaum kaki kencing pakai duit gomen. Duit gomen tu duit rakyat la. Tabur 3 juta kat sekolah cina Hulu Slangor. Tabur 18 juta (?) kat sekolah dan apa balak lagi pada masyarakat cina yang dah kaya. Dengar khabar Sibu tu, bandar paling ramai ada millionaire kat Malaysia ini. Apala Najib ni! Tak buat homework ke? Penasihat pun kaki kencing ke? Atau memang degil kepala batu tak dengar cakap orang si Najib ni? Tang lesen judi cepat sangat si Najib ni, tang Satu Sekolah, haram!

21 05 2010
SSS Admin


Yang menyedihkan ialah hal bahawa dia tahu itu semua tetapi dia buat juga. Maka nyatalah dia mengejar undi sesangat. Sehinggakan sanggup mengenepikan perinsip. Bukankah perinsip ulong bagi seorang Perdana Menteri mempertahankan Perlembagaan negara? Ini bukan hanya tidak mempertahankan, malah melanggar Perkara 152 berkenaan kedudukan Bahasa Malaysia. Memang gejala ini sedia ada sejak Merdeka. Tetapi dia tidak patut menggalakkan penerusan sekolah vernakular dengan memberi bantuan wang dan sebagainya.

Nampaknya dia langsung tidak pedulikan laungan pihak-pihak berkenaan berkaitan Perkara 152. Model Ekonomi Bahrunya setakat yang telah diumumkan belom nampak merangkumi Dasar Ekonomi Bahru dengan sepenuhnya. Jika dia melebihkan kepentingan kaum lain, tidak kaum majoriti dinegara ini, maka tindakan yang sewajarnya perlu diambil. Terpulanglah kapada kaum majoriti mengambil tindakan tersebut. Umpamanya ahli-ahli biasa UMNO, Perkasa dan NGO-NGO Melayu.

20 05 2010
SSS Admin


There is no question of negotiation or compromise as far as what have been provided in the Constitution are concerned. All citizens are expected to be loyal citizens and respect for and living by the Constitution is indeed the basis for determining one’s loyalty to the country. Loyalty is non negotiable and cannot be treated as an item of merchandise.

The Chiese have control over the economy of the country and own a vast amount of wealth whereas the Malays have only 18% of corporate wealth, not counting other forms of wealth like commercial and residential properties. The Chinese dominate employment in the private sector whereas the Malays have dominance only in the public sector which accounts for only about 10% of the total employment in this country. Perhaps if any negotiation can be done it is in these respects. But would the Chinese agree to a proportionate distribution of wealth, employment at management and supervisory levels in the private sector, including in the Chinese-owned businesses, in consideration for more places in the public sector?

Political leaders need to realise that racial polarisation has been on the increase since the time of the past administration. Conscious efforts need to be made to bring all parties together on the basis of the Constitution and not politicise each and every incident like the death of Teoh Beng Hock at the MACC offices, the shooting of a 14 year-old boy driving without a license and running away from the Police. The Government in power must use its power to reign in the bad hats and use the tools at their disposal like the ISA, the Sedition Act and the vast resources of the Ministry of Information and Mass Media to explain and publicise their actions and non-actions. If they don’t they may get “whacked” like the previous leadership was.

20 05 2010

Tuan Admin

Saya pikir yang Tuan maksudkan “Satu Bangsa” ditajuk rencana ini ialah Bangsa Malaysia, betul tak?

Pada saya Bangsa Malaysia tu macam tuan katalah – guna satu bahasa sahaja melainkan cakap prebet, dirumah atau diluar tapi sama sendiri saja. Bila ada orang lain, cakap BM lah. Macam omputih kata, when in Rome do like the Romans do.

Tambah pulak Bangsa Malaysia tu ialah yang saling menghormati satu sama lain, hormat dan ikut Perlembagaan sepenuh nya. Betul tak gitu?

21 05 2010
SSS Admin


Mungkin mereka kurang hormatkan bangsa Melayu kerana, sebagaimana 1-2 komen telah mereka keluarkan, mempunyai persepsi kononnya Melayu ini datang kemudian dari Orang Asli, hanya beratus tahun sahaja sejak Kesultanan Melayu Melaka. Mereka tida tahu langsung sejarah Melayu Srivijaya, Melayu Campa, Melayu Pattani dan sebagainya. Dan bahawa mereka yang dikenali sebagai Melayu sekarang ini adalah serumpun dengan Orang Asli dan keseluruhan mereka yang telah mendudukki Gugusan Pulau-Pulau Melayu (The Malay Archipelago), bergerak hingga keMadagascar, Christmas Island, Australia, New Zealand, Hawaii, Taiwan, Vietnam dan Cambodia beribu tahun dahulu.

Mereka tidak tahu atau enggan menerima fakta bahawa pakar-pakar kaji bahasa (linguists), kaji maanusia (anthropologists), kaji purba (anthropologists) sejak abad 19 telah menyatakan bahawa Rumpun Melayu itu merangkumi Proto Malays (Orang Asli), Deutero Malays (Melayu sekarang), Molayo-Polynesians dan Austronesians. Maka mereka adalah diseru membaca buku, “The Malay Civilisation” yang diterbitkan The Historical Society of Malaysia, 2007 atau ringkasan-ringkasannya yang ditulis oleh pembaca bernama Dot sebagai komen kapada 2-3 pos blog ini sebelom ini.

Mereka harus tahu bahawa Melayu sudah ada dirantau ini sejak 6,000 tahun yang lalu dan keluar masuk Semenanjung Malaysia dan pulau-pulau lain diGugusan yang dipanggil The Malay Archipelago itu juga beribu tahun.

Jika mereka masih juga enggan menjadi Bangsa Malaysia sepenuhnya dan mahu memencilkan diri dengan sekolah vernakular dan menggunakan bahasa Mandarin dan Tamil selain dari diperhubunagan tidak resmi dan sesama sendiri, maka susahlah timbul harmoni dan perpaduan dinegara ini.

28 03 2012

kita bangsa melayu seharusnya mengekalkan bahasa ibunda bukan mengetepikan. tidak semestinya kita tidak boleh berbahasa inggeris langsung tetapi. bahasa melayu merupakan identiti negara malaysia!!!!!!!

20 12 2012
aibara rahma

kalau bahasa indonesia? saya dari bangsa indonesia yang sangat menghargai bahasa melayu. dulu sukarno presiden di indonesia punya cita cita bahwa bahasa melayu sebagai bahasa international

20 12 2012

Bagi pihak diri saya sendiri, saya mengalu alukan kehadziran anda di sini. Di harap dapat kita bertukar fikiran selalu di sini.

Saya sudah membaca buku buku yang di sebut di komen di atas itu dan ingin saya mengsyorkan anda membacanya – “Tamadun Alam Melayu” dan “The Malay Civilization”, penerbitan Persatuan Sejarah Malaysia (untuk maklumat lanjut, sila layari website The Historical Society of Malaysia). Buku buku itu menyatakan Keluarga Besar Bahasa Melayu yang, mengikut kajian pakar pakar bahasa (linguists) ada melebehi 1,200 jumlahnya – di panggil Melayu sebab orang asing dari Eropah yang mula sampai di rantau ini telah menjumpai kaum yang di panggil Melayu.

Kemungkinan Bahasa Melayu itu menjadi bahasa antarabangsa saya fikir ada. Apa yang di panggil Keluarga Besar Melayu atau Rumpun Melayu itu merangkumi 350 juta maanusia yang mendudukki lebihkurang 1/3 muka bumi ini, hingga ke Madagascar, Afrika Selatan, Christmas Island di Australia, New Zealand, Indochna, hingga ke Taiwan dan Hawaii.

Ada usaha usaha di ambil bagi mendalamkan dan menyebarkan melalui seminar, pameran dan sebagainya pengkajian bahasa dan budaya Melayu di rantau ini dengan kerjasama UNESCO, seperti Seminar Manuskrip Melayu Campa (yang telah mendiami Vietnam dan Cambodia lebih seribu tahun yang lalu). Seminar itu telah di anjurkan bersama diantara Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia, Jabatan Muzium dan Antikuiti Malaysia, dan Pusat Penyelidikan Timur Jauh Peranchis (Far East Research Centre, France), di Kuala Lumpur di tahun 2004. (Untuk maklumat lanjut, sila layari website Jabatan Muzium Malaysia).

Usaha usaha yang melibatkan pertubuhan pertubuhan antarabangsa seperti itu saya fikir akan membawa kapada pengenalan dan penggunaan Bahasa Melayu di dunia antarabangsa pada suatu masa akan datang. Di harap negara negara besar seperti Indonesia akan bersama menggiatkan usaha usaha seperti itu.

6 01 2013
Satu Islam Satu Tujuan | L-MIS

[…] […]

19 03 2013
pemancing tanpa joran

‘Satu Bahasa, Satu Bangsa, Satu Negara’ merupakan satu konsep yang agar rumit terutamanya bagi suku-suku kaum yang berbeza. Terlebih dahulu, konsep ini bukan sahaja satu propaganda nasionalisme yang mementingkan perpaduan dan kesatuan bangsa Malaysia, tetapi juga merangkumi ciri-ciri kebudayaan yang sukar difahami oleh kaum Melayu.

Sering dikatakan bahawa isu-isu sekolah vernakular itu disebabkan oleh bahasa ibunda masing-masing. Tetapi sebagaimana saudara/saudari SatD mencadangkan, sekolah vernakular diwujudkan bukan semata-mata untuk mengukuhkan bahasa ibunda. Tujuan sebenarnya untuk membentuk ‘kaum Cina’ atau ‘kaum India’. Maka adalah mudah bagi kaum Melayu menyokong ‘sekolah satu aliran’ kerana sebenarnya tiada perbezaan di antara ‘bangsa Malaysia’ dengan ‘bangsa Melayu’ dari segi kebudayaan. Apa pula makna propaganda ini bagi kaum-kaum bukan Melayu di mana mereka akan diserap dalam satu sistem kebuyaan yang asing bagi mereka? Mungkinkah kaum Cina atau India terus mengukuhkan institusi-institusi sosial dan kebudayaan masing-masing jika ‘konsep kesatuan’ itu diamalkan melalui kekerasan polisi? Apakah kesan-kesan psikologi yang akan dialami oleh mereka jika ianya berlaku?

Bayangkan diri anda bermastautin di suatu masyarakat Melayu di Tanah Besar. Wajarkah jika orang putih berkata ‘please become a Chinese, this is not Tanah Melayu’? Adakah ini ‘give and take’ yang boleh diterima dengan begitu senang? Apakah usaha akan dibuat oleh masyarakat Melayu itu untuk mempertahankan identiti Melayu di Tanah Besar? Apakah maknanya sebagai seorang ‘Malay Chinese’ jika berbanding dengan kaum Melayu di sudut-sudut dunia lain?

Kata-kata Eunice Ong mengenai dilema bukan Melayu adalah tepat sekali. Namun Ong telah lupa bahawa kebudayaan berkaitan rapat dengan identiti kaum. Walaupun telah dibuktikan kebudayaan dan identiti kaum sering berubah, namun kekukuhan prinsip-prinsipnya jauh lebih kuat dari apa yang kita anggap. Adalah satu kesilapan besar juga untuk menganggap bahasa ibunda itu semata-mata untuk tujuan adat resam dan tradisi. Jika anda boleh memahami kepentingan Bahasa Melayu bagi kaum Melayu, samalah benda itu dengan kepentingan Bahasa Cina bagi kaum Cina dan Bahasa Tamil bagi kaum India. Perlu berhati-hati semasa menggunakan perkataan ‘pengorbanan’ atau ‘give and take’ dalam isu kebudayaan dan kaum kerana wujudnya ketidakseimbangan kuasa dalam discourse tersebut.

Kita seharusnya berwaspada bahawa adakah ‘kesatuan’ itu sentiasa baik? Hampir semua kes-kes negara asing menunjukkan bahawa penekanan terhadap kesatuan sentiasa membawa masalah seperti perang dalam dan diskriminasi. Dari segi hubungan kuasa, kesatuan bagaikan topeng kekerasan yang tidak disedari oleh orang yang pakai topeng itu. Kesatuan juga merupakan dadah romantisme yang salah dianggap sebagai kebenaran tapi mengetepikan perbezaan yang tidak boleh dinafikan. Bagi saya, kemungkinan untuk mencapai kesatuan adalah sangat rendah di Malaysia. Masyarakat kita memang sesuai dengan model ‘live side by side’ tanpa bercantum menjadi satu bangsa. Oleh itu, dalam konteks Malaysia, adalah lebih berfaedah jika kita berusaha untuk memahami perbezaan masing-masing dalam model tersebut untuk mencapai perpaduan daripada terperangkap dalam romantisme kesatuan yang mengabaikan perbezaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: